Kuatnya Tradisi Mataram dalam Politik Kita

Oleh: Elfahmi Lubis

Penjilat, Relasi Kuasa dan Hamba

Pilkada 2020 dan mungkin juga Pilpres 2024 yang akan datang, telah menimbulkan gimmick politik tentang menguatnya tradisi Mataram dalam politik Indonesia. Walaupun tesis ini mudah sekali dibantah dengan argumentasi normatif dan politik, bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih yang dijamin dalam konstitusi. Argumentasi lain bahwa jabatan politik tersebut diperoleh bukan karena penunjukan sepihak, tapi lewat sebuah kontestasi politik melalui mekanisme Pilkada.

Namun dalam konteks ini saya tidak melihatnya dari perspektif tersebut, tapi hanya ingin menguliti secara kritis bagaimana praktik oligarki politik dan tradisi politik “kaula” yang feodalistik masih sangat kuat dalam budaya politik (politic culture) Indonesia saat ini. Di mana seharusnya budaya politik tersebut sudah kita kubur dalam-dalam ketika kita telah sepakat memilih demokrasi modern dalam sistem politik kita.

Kuatnya tradisi politik gaya Mataram, secara budaya bisa dipahami karena mendapat legitimasi argumen, bahwa memang Indonesia secara historis berembrio dari tradisi pemerintahan kerajaan yang berbalut klenik dan mistis. Sebut saja Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Pasai, Borneo, Ternate, Tidore, dan lain-lain.

Menguatnya tradisi Mataram tidak saja dalam perilaku politik, tapi juga menguat dalam bentuk perilaku yang diwujudkan relasi “raja dan hamba”. Bukan fenomena asing, relasi atasan dan bawahan di dalam birokrasi kita diwarnai perilaku “menjilat” alias “setor muka” dan manajemen ABS (asal bapak senang).

Relasi kuasa seperti ini tidak saja merupakan “pembusukan” tapi juga berimbas pada iklim kerja yang kaku, nir kreativitas, nir prakarsa, nir inisiatif, dan pada stadium lanjut akan menjerumuskan sang “kuasa” ke jurang kebinasaan.

Ada quote yang terkenal “Seberapa kuat anda mempertahankan kekuasaan, ada satu hal yang tidak akan anda mampu lawan, yaitu WAKTU”. Selamat menikmati liburan akhir pekan yang panjang, jangan lupa bahagia dan saling mengasihi.

*Penulis adalah Dewan Pakar JMSI Provinsi Bengkulu

Terbaru

Disparpora Apresiasi JMSI dan Pemuda Alap, Komitmen Ramaikan TWK

SELUMA - Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Seluma, mengapresiasi JMSI dan Pemuda Alap yang berKomitmen menjadikan Taman Wisata Kota (TWK) Simpang Enam Kelurahan Talang Saling Kecamatan Seluma sebagai pusat Usaha Mikro Kecil...

Dukung Seluma Alap, JMSI dan Pemuda Alap Komitmen Ramaikan Taman Wisata Kota

SELUMA - Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Seluma berkomitmen untuk menjadikan Taman Wisata Kota (TWK) sebagai pusat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di kabupaten Seluma. "Sebagai ketua pengelola UMKM TWK, kami berkomitmen untuk...

Terima Kunjungan Wakil Ketua DPD RI, Bupati Sampaikan Lima Program Ungulan Seluma

SELUMA - Bupati Seluma Erwin Octavian menerima kunjungan Wakil Ketua DPD RI H. Sultan Bachtiar Najamudin, S.Sos, M.Si, Selasa 21 Juni 2022. Kunjungan Wakil Ketua DPD RI Daerah Pemilihan Bengkulu tersebut yakni untuk Menyerap Aspirasi...

Related Articles

Varian Model Penyelesaian Sengketa Pilkada Dalam Kerangka Regulatif

Oleh: Elfahmi Lubis* Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, secara tegas menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat. Implementasi kedaulatan rakyat dalam bingkai negara demokrasi adalah terselenggaranya pemilihan umum (Pemilu) secara reguler...

Gugat Class Action Pemerintah, Lalai Atasi Banjir?

Oleh: Elfahmi Lubis* Dalam beberapa hari ini Kota Bengkulu dikepung oleh banjir. Di beberapa kawasan, banjir telah menenggelamkan pemukiman penduduk dan akses jalan mengalami kelumpuhan. Ditaksir kerugian yang dialami warga ratusan juta rupiah. Mulai dari...

Komunisme itu “Hantu” dan PKI itu “Kutukan” Sejarah?

Oleh: Elfahmi Lubis* G 30 S/PKI merupakan tragedi kemanusiaan berkelindan dengan ambisi politik, yang paling memilukan dan mengenaskan sepanjang sejarah bangsa ini. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1965 oleh kelompok politik bernama Partai Komunis Indonesia...